dermaga malammalam




semakin merapat ke dermaga
semakin dekat dengan malammalam yg telah ditinggalkan
malam yg hampir memudar
semoga tak perlu pijarkan lilin
bintang masih terjaga
diatas kepala kita

aku rela berpisah dengan malam
tapi bukan untuk saat ini...

Senja dermaga pulau semak daun

untuk Ibu...



Terbayang...
raut wajah sendu penuh kehangatan
garis usia di keningnya begitu nampak
pantulkan rona kasih yang tak pernah tersisih

Terperangah...
mataku melihat Bulir-bulir padi menunduk kagum
saat menyaksikan ia membawakanku secangkir kasih
yg telah ia buat sedari malam, ya sedari malam (tutur ayahku)

Terngiang...
ayat ayat Illahi yg begitu indah terlantun dari bibirnya
di sepertiga malam seusai sujudnya, saat semua mata masih merekat lelap
ia terjaga disamping tidurku, bersimpuh melantunkan ayat-ayat Illahi
syahdu, terdengar sayup sayup diantara suara gemericik hujan

Ku merindu...


ada kabut dimataku, kabut airmata haru
untuk ibu...


Tujuh dua puluh Lima



Tujuh dua puluh Lima
Jarum waktu tergambar dimataku
Langit begitu lebam, Seusai rintik airmata malam
Menyisakan dingin untuk malam dan sepenggal kerinduan

Aku menghabiskan detik diatas becak tua
Bersama seorang bapak tua, pengayuhnya
Menyusuri setiap jalan malam
Tanpa arah, namun malam cukup indah

Aku Mencari serpihan hati yg tercecer sore tadi

Hatinya di nusa kambangan




mata mata itu mulai takut
bersembunyi di lorong lorong malam
begitu lembab seusai rinai hujan sore tadi
terlihat ada kubangan air dipelupuk mata

samar samar kulihat kokoh tubuhnya, namun ia rapuh
serpihan hatinya tercecer dimana mana
seusai pertikaian semalam
hatinya, bukan miliknya lagi

hatinya sudah terpenjara...

Kabut Hati



mereka reka hati dalam senyap
perlahan memudar, lalu tak tergambar
seperti belukar

aku tak pernah mengingini kabut hitam ini
begitu pekat di hati...
tapi semuanya terjadi tanpa kusadari
dan tanpa ku ingini

Hitam

Kuburkan hatiku esok pagi...

Jauh




tubuhku berdebu
aku tak sanggup lagi mendongak
semuanya terasa Sunyi Senyap
ingin merengkuh malam, tapi aku tak berdaya

tanah yg sedari tadi ku genggam kuat
perlahan melemah, lalu berjatuhan
serbuknya ada yang terhempas angin
ada pula yang terjatuh di lututku

aku bersimpuh...
bukan untuk mengeluh
tp untuk menemui hatiku yg selama ini telah jauh

jauh, kutinggalkan karena angkuh

Hatiku meranggas...

daunku kian berguguran
aku acuh... namun tetap saja aku bergemuruh
hatiku rapuh

aku ingin rindang

Ibu pertiwi tak boleh mati!



luluh lantah...
hati kami terbakar
oleh bara kami sendiri
semoga masih ada sisa hati diantara puing hitam

Ibu pertiwi tak boleh mati!

Bilang padanya, kami manusia!




bilang padanya kami tertegun lirih
padahal kami berada dirumah kami sendiri
perjalanan kami sudah panjang
mengurai waktu & peluh,
yang tidak sedikit

untuk mengokohkan rumah
yang dulu rapuh

kini... jasad kami tercerai berai
namun hati kami masih satu

bilang padanya, kami manusia!